Prasasti Plumpungan

 

Alamat : Jl. Kauman Kidul, Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah 50712
Jam Operasional : Buka Setiap hari
Tarif : Gratis

Sejarah Salatiga di mulai dari Prasasti Plumpungan, sebuah batu dengan ukuran 170×150cm dengan diameter 5m. Di permukaan batu tersebut tertulis sebuah ketetapan hukum tentang status tanah perdikan atau swantantra bagi Desa Hampra. Status tersebut penting artinya karena daerah perdikan bebas pajak dan memiliki kekhususan tertentu. Prasasti yang ditulis dengan huruf jawa kuno dengan bahasa sansekerta tertera “Srir Astu Swasti Prajabhyah”, yang artinya: “Semoga Bahagia, Selamatlah Rakyat Sekalian”, ditulis pada hari Jumat, tanggal 24 Juli tahun 750 Masehi. Penamaan Kota kecil ini dengan Salatiga, tak lepas dari peran Ki Ageng Pandanaran II yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Semarang.

Dikisahakan Ki Pandanarang mengundurkan diri dari jabatannya dan mengasingkan diri menuju selatan. Saat sampai di daerah perdikan, Ki Pandanarang II berserta keluarganya di rampok oleh 3 orang. 3 perampok akhirnya dapat dikalahkan dan menjadi pengikutnya, dan dari kejadian tersebut dinamailan Salatiga yang berasal dari Salat tiga. Kata Salat Tiga dari kisah “Kangmas, Tulung! Wonten Tyang, salat telu! Kangmas, tolong! Ada Tiga orangutan penyamun”. Versi lain mengatakan Saltiga berasa dari kata Sela/Selo (batu) dan Tigo (tiga). 3 batu tersebut dari sebuah candi yang menurut legenda terletak di samping aliran sungai Kali Taman, Benoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *